Edukasi

Pelatihan Coding untuk Tim Internal: Investasi yang Sering Diremehkan

Kembali ke Insight
Ringkasan

Tidak semua instansi atau bisnis butuh developer full-time, tapi hampir semua diuntungkan kalau ada satu orang di dalam yang paham dasar-dasarnya.

Selain membangun sistem, kami cukup sering diminta mendampingi belajar coding, baik untuk tim internal instansi, staf UMKM, maupun orang yang ingin beralih karier. Pertanyaan yang paling sering muncul di awal: apa perlu staf non-IT belajar coding kalau sistemnya sudah ditangani vendor?

Dari pengalaman kami, jawabannya hampir selalu iya, tetapi alasannya bukan yang biasanya dikira orang.

Bukan supaya bisa membangun sistem sendiri

Tujuannya bukan menjadikan staf administrasi sebagai programmer. Itu tidak realistis dan juga tidak perlu.

Tujuannya adalah agar ada satu orang di dalam organisasi yang bisa menjadi jembatan. Orang yang paham struktur data sehingga bisa menjelaskan kebutuhan dengan tepat, mengerti logika sederhana sehingga bisa menilai apakah permintaan perubahan itu besar atau kecil, dan bisa membaca pesan kesalahan sehingga tahu kapan masalahnya sepele dan kapan harus menghubungi vendor.

Peran ini kelihatan kecil, tetapi dampaknya besar. Sistem apa pun cepat atau lambat butuh penyesuaian kecil: mengubah teks di form, menambah satu kolom di laporan, memperbaiki data yang salah input. Kalau setiap hal sekecil itu harus menunggu vendor, biaya waktu dan biaya jasa terus bertambah untuk pekerjaan yang sebenarnya sederhana.

Pola pelatihan yang gagal

Ada pola yang cukup konsisten kami perhatikan antara pelatihan yang berhasil dan yang tidak.

Pelatihan yang gagal biasanya dimulai dari teori pemrograman umum: tipe data, struktur kontrol, algoritma dasar, dengan contoh yang tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan peserta. Materinya terasa abstrak, peserta bertahan karena sungkan, dan tiga minggu kemudian tidak ada yang menyentuh materinya lagi.

Masalahnya bukan pada materinya, yang memang benar dan penting. Masalahnya pada urutannya. Orang dewasa yang sudah punya pekerjaan belajar paling cepat ketika materinya langsung menjawab persoalan yang sedang mereka hadapi.

Pola pelatihan yang berhasil

Pelatihan yang berhasil dimulai dari masalah nyata peserta. Misalnya rekap bulanan yang selama ini disusun manual dari lima file, atau data yang harus disalin berulang antar-lembar kerja.

Urutan yang kami pakai biasanya seperti ini:

  • Mulai dari otomatisasi spreadsheet. Rumus, tabel pivot, lalu makro sederhana. Ini sudah menyelesaikan banyak keluhan tanpa menyentuh bahasa pemrograman sama sekali, dan memberi kemenangan awal yang penting untuk motivasi.
  • Masuk ke pengolahan data dengan skrip. Setelah peserta merasakan manfaat otomatisasi, barulah masuk ke bahasa pemrograman, dengan data instansi mereka sendiri yang sudah dianonimkan.
  • Baru masuk konsep. Setelah peserta punya pengalaman konkret, konsep seperti tipe data dan perulangan menjadi jauh lebih mudah dipahami karena mereka sudah memakainya tanpa tahu namanya.

Perhatikan bahwa urutannya kebalikan dari kurikulum yang biasa. Teori diletakkan belakangan, bukan di depan.

Berapa lama sampai terasa manfaatnya

Ini pertanyaan yang wajar dari pimpinan yang menyetujui anggaran. Jawaban jujurnya bergantung pada seberapa dekat materinya dengan pekerjaan sehari-hari peserta.

Kalau pelatihannya dimulai dari masalah nyata, manfaat pertama biasanya terasa dalam hitungan minggu, berupa pekerjaan rutin yang sebelumnya memakan dua hari menjadi setengah hari. Kalau pelatihannya dimulai dari teori umum, manfaatnya sering tidak pernah terasa sama sekali.

Untuk lembaga pendidikan, prinsipnya sama

Kami juga mendampingi sekolah dan lembaga pendidikan, dan polanya tidak jauh berbeda. Siswa lebih cepat memahami konsep pemrograman kalau materinya menghasilkan sesuatu yang bisa mereka lihat dan tunjukkan, bukan sekadar latihan yang keluarannya angka di layar.

Satu hal yang sering luput: yang perlu dilatih bukan hanya siswanya, tetapi juga gurunya. Guru yang percaya diri dengan materinya akan mengajar dengan cara yang jauh berbeda dibanding guru yang baru membaca materi semalam sebelumnya.

Ukuran keberhasilan yang lebih tepat

Pelatihan coding sering diukur dengan target seperti "peserta menguasai bahasa X". Menurut kami ukuran itu kurang tepat, karena bisa dicapai di atas kertas tanpa berdampak apa pun.

Ukuran yang lebih berguna adalah: apakah peserta cukup percaya diri untuk membuka kode yang sudah ada, memahami maksudnya, dan mengubah sedikit bagiannya tanpa takut merusak. Kalau itu tercapai, investasi pelatihannya akan terasa manfaatnya setiap minggu, bukan sekadar menghasilkan sertifikat di atas kertas.

Punya kebutuhan serupa untuk instansi atau bisnis Anda?

Konsultasi Gratis
Chat WhatsApp