UMKM & Koperasi

Digitalisasi Koperasi: Mulai dari Mana Kalau Anggota Masih Tercatat di Buku?

Kembali ke Insight
Ringkasan

Banyak koperasi ingin digital tapi bingung mulai dari mana karena puluhan tahun data anggota, simpanan, dan pinjaman tercatat di buku fisik. Ini urutan langkah yang biasanya paling realistis.

Koperasi termasuk klien yang paling sering kami dampingi, dan hampir semuanya menghadapi masalah yang sama di awal: data anggota, simpanan, dan riwayat pinjaman sudah bertahun-tahun tercatat manual di buku besar atau di spreadsheet yang dikelola sendiri-sendiri oleh pengurus.

Pertanyaan pertama yang muncul hampir selalu sama, dan wajar: "kalau pindah ke sistem, data lama yang bertahun-tahun itu bagaimana?" Pertanyaan ini harus dijawab sebelum proyek dimulai, bukan dianggap urusan teknis yang nanti juga beres sendiri.

Jangan mulai dari migrasi total

Langkah yang paling sering diambil dan paling sering gagal adalah memindahkan seluruh riwayat transaksi sejak koperasi berdiri. Pekerjaannya besar, memakan waktu berbulan-bulan, dan hasilnya jarang sepadan karena sebagian besar data lama itu tidak pernah dibuka lagi.

Yang lebih realistis adalah memetakan dulu data mana yang benar-benar aktif. Untuk koperasi simpan pinjam, biasanya yang wajib benar hanya tiga hal:

  • Saldo simpanan tiap anggota, dipecah menjadi simpanan pokok, wajib, dan sukarela.
  • Sisa pokok pinjaman beserta jadwal angsuran yang belum lunas.
  • Status keanggotaan, termasuk anggota yang sudah keluar tetapi simpanannya belum ditarik.

Riwayat transaksi lama tetap disimpan sebagai arsip, tetapi cukup dalam bentuk berkas, tidak perlu masuk ke sistem satu per satu.

Menentukan tanggal batas

Ini keputusan kecil yang berdampak besar. Tetapkan satu tanggal sebagai titik awal sistem, misalnya 31 Desember. Saldo per tanggal itu menjadi saldo awal di sistem, dan seluruh transaksi setelahnya dicatat di sistem.

Tanggal batas ini sebaiknya disepakati dalam rapat pengurus dan dicatat di notulen. Kami pernah menemui koperasi yang saldo awalnya diperdebatkan setahun kemudian karena tidak pernah ada kesepakatan tertulis tentang tanggal batasnya.

Siapa yang akan menginput

Pertanyaan ini sering baru terpikir setelah sistem jadi, dan di situlah banyak proyek berhenti. Tentukan namanya sejak awal, bukan jabatannya. Kalimat "nanti bagian administrasi yang input" terlalu longgar, karena bagian administrasi bisa berisi tiga orang yang saling menunggu.

Orang itu juga perlu dilatih sebelum sistem dipakai untuk transaksi sungguhan, bukan sesudahnya. Latihan dengan data contoh selama beberapa hari jauh lebih murah daripada memperbaiki salah input di data asli.

Masa transisi paralel

Kami hampir selalu menyarankan sistem baru dan pencatatan manual berjalan bersamaan selama empat sampai delapan minggu. Terdengar merepotkan, dan memang iya. Tapi ini satu-satunya cara memastikan angka di sistem cocok dengan angka di buku sebelum buku benar-benar ditinggalkan.

Selama masa itu, lakukan pencocokan mingguan, bukan bulanan. Selisih yang ditemukan setelah seminggu masih mudah ditelusuri. Selisih yang baru ketahuan setelah sebulan berarti menelusuri ratusan transaksi.

Bagian yang paling sering diabaikan: laporan RAT

Rapat Anggota Tahunan membutuhkan format laporan yang spesifik dan sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun, bukan laporan generik bawaan sistem. Ini termasuk neraca, perhitungan hasil usaha, pembagian SHU, dan daftar simpanan per anggota dengan urutan serta istilah yang sudah dikenal pengurus dan anggota.

Kalau sistem tidak bisa menghasilkan laporan itu, pengurus akan tetap mengolah ulang di Excel setiap tahun, dan lama-lama sistemnya hanya dipakai sebagai tempat menyimpan data, bukan sebagai alat kerja.

Karena itu, saat menyusun kebutuhan, mintalah contoh laporan RAT tahun sebelumnya dan jadikan itu lampiran kesepakatan. Ini satu langkah kecil yang menyelamatkan banyak proyek koperasi.

Soal ketentuan yang berlaku

Koperasi diatur cukup rinci, mulai dari jenis simpanan, cara pembagian SHU, sampai kewajiban pelaporan ke dinas terkait. Aturan ini bisa berbeda penerapannya antar-daerah dan bisa berubah. Sistem sebaiknya dibuat agar parameter seperti persentase pembagian SHU dan jenis simpanan bisa diatur sendiri oleh pengurus, bukan ditanam mati di dalam kode.

Kami tidak menyarankan mengunci aturan di dalam sistem, karena setiap kali ketentuannya berubah, koperasi jadi bergantung pada vendor untuk hal yang seharusnya bisa mereka ubah sendiri.

Tiga bulan pertama menentukan segalanya

Digitalisasi koperasi bukan proyek sekali pindah lalu selesai. Bagian tersulitnya justru ada di tiga bulan pertama setelah sistem berjalan, ketika kebiasaan lama dan sistem baru masih berdampingan dan setiap orang masih merasa cara lama lebih cepat.

Di masa itu, yang paling menentukan bukan kualitas kode sistemnya, melainkan ada tidaknya orang yang bisa dihubungi ketika pengurus menemui hal kecil yang membingungkan. Karena itu, untuk koperasi, kami selalu menaruh pendampingan pasca-rilis sebagai bagian kontrak, bukan sebagai jasa tambahan.

Punya kebutuhan serupa untuk instansi atau bisnis Anda?

Konsultasi Gratis
Chat WhatsApp