Digitalisasi Pemerintah

5 Tanda Instansi Anda Perlu Dashboard Pelaporan Digital

Kembali ke Insight
Ringkasan

Laporan yang telat, data yang tercecer di banyak file Excel, dan pimpinan yang selalu bertanya "datanya mana" — ini tanda-tanda paling umum yang kami temui sebelum instansi akhirnya beralih ke dashboard digital.

Ada pola yang hampir selalu muncul sebelum sebuah instansi memutuskan pindah dari laporan manual ke dashboard digital. Kami sudah menangani cukup banyak proyek serupa untuk pemerintah daerah dan lembaga publik, dan lima hal berikut yang paling sering kami temui saat sesi analisis awal. Kalau instansi Anda mengalami tiga di antaranya, biasanya kebutuhannya sudah nyata, bukan sekadar ikut tren.

1. Laporan disusun ulang dari file yang tersebar

Ini yang paling umum. Setiap kali pimpinan meminta rekap, staf harus mengumpulkan file dari beberapa bidang, menyamakan format kolom yang berbeda-beda, lalu menghitung ulang totalnya secara manual. Padahal datanya sendiri sebenarnya sudah ada sejak awal bulan, hanya tersimpan di komputer masing-masing.

Yang membuat ini mahal bukan sekadar waktu penyusunannya. Setiap kali data disalin ulang, ada peluang salah ketik. Kami pernah mendampingi satu dinas yang selisih angkanya baru ketahuan tiga bulan kemudian, dan penelusurannya makan waktu hampir seminggu karena harus membandingkan tujuh file yang semuanya bernama mirip.

Tanda praktis yang bisa Anda cek: kalau di folder bersama instansi Anda ada file bernama `rekap_final_revisi2_fix.xlsx`, itu bukan lelucon internet, itu gejala.

2. Tidak ada satu sumber data yang disepakati

Data yang dipegang bidang A sering berbeda dari data bidang B, padahal keduanya merujuk hal yang sama. Ini terjadi karena tiap bidang mencatat dengan caranya sendiri, dengan definisi yang juga sendiri-sendiri.

Contoh yang sering kami temui: satu bidang menghitung "permohonan selesai" sejak berkas ditandatangani, bidang lain menghitungnya sejak dokumen diserahkan ke pemohon. Selisihnya bisa dua sampai lima hari kerja, dan itu cukup untuk membuat dua laporan tentang hal yang sama terlihat bertentangan di rapat.

Perlu ditegaskan, masalah ini tidak selesai hanya dengan membeli aplikasi. Yang menyelesaikannya adalah kesepakatan definisi, dan aplikasi yang menegakkan kesepakatan itu di form input.

3. Masalah baru ketahuan setelah terlambat

Tanpa dashboard yang menampilkan status berjalan, hal seperti keterlambatan proses atau menumpuknya permohonan baru terlihat saat laporan bulanan selesai disusun, yaitu ketika bulannya sudah lewat dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Idealnya, antrean yang mulai menumpuk sudah kelihatan sejak minggu pertama, saat masih bisa ditangani dengan menambah personel atau menyederhanakan satu tahap verifikasi. Inilah nilai utama dashboard yang sering salah dipahami: gunanya bukan mempercantik laporan, tapi memajukan waktu Anda menyadari sesuatu.

4. Waktu membuat laporan melebihi waktu mengerjakan pekerjaannya

Coba hitung kasar bersama staf Anda: berapa hari kerja dalam sebulan yang habis untuk menyusun, merapikan, dan merevisi laporan? Kalau angkanya menyentuh lima hari atau lebih, artinya seperempat waktu kerja dipakai untuk melaporkan pekerjaan, bukan mengerjakannya.

Angka ini biasanya cukup untuk menjawab pertanyaan soal kelayakan anggaran. Bukan karena dashboard akan menghapus pekerjaan itu sepenuhnya, tapi karena porsi menyalin dan menghitung ulang memang bisa dihilangkan hampir seluruhnya.

5. Permintaan data dari luar selalu jadi momen panik

Audit, pengawasan internal, permintaan dari instansi vertikal, atau permohonan informasi publik lewat PPID. Kalau setiap permintaan semacam ini berarti menelusuri berkas lama secara manual, itu tanda data Anda tersimpan, tapi tidak dapat diakses.

Bedanya besar. Data yang tersimpan hanya berarti tidak hilang. Data yang dapat diakses berarti bisa difilter berdasarkan periode, unit kerja, atau status, lalu diekspor dalam hitungan menit oleh staf yang bukan orang IT.

Yang perlu diluruskan soal dashboard

Satu hal yang hampir selalu perlu kami luruskan di awal proyek: dashboard yang baik bukan mengubah tampilan Excel jadi web. Kalau alur input datanya tidak diperbaiki, hasilnya cuma Excel dengan grafik yang lebih berwarna, dan setahun kemudian instansi kembali ke file terpisah karena mengisi sistem terasa lebih repot daripada mengisi spreadsheet.

Karena itu kami selalu mulai dari pemetaan: siapa menginput apa, kapan, lewat proses apa, dan dengan insentif apa. Pertanyaan terakhir itu yang paling sering dilewati. Staf yang menginput data biasanya bukan pihak yang menikmati hasil dashboard-nya, sehingga kalau input dibuat merepotkan, mereka tidak punya alasan untuk tertib. Sistem yang berhasil biasanya memberi mereka sesuatu sebagai gantinya: laporan bidang yang otomatis jadi, tidak perlu lagi mengisi form ganda, atau nomor register yang keluar sendiri.

Sebelum menyusun anggaran

Kalau instansi Anda mengenali beberapa tanda di atas, ada tiga hal yang sebaiknya sudah jelas sebelum menyusun kerangka acuan kerja:

  • Keputusan apa yang ingin diambil dari dashboard ini. Kalau jawabannya masih "untuk memantau", biasanya belum cukup spesifik. "Untuk tahu unit mana yang antreannya menumpuk minggu ini" jauh lebih bisa dirancang.
  • Siapa yang bertanggung jawab menginput, dan itu bagian dari tugas siapa. Tanpa nama dan uraian tugas yang jelas, sistem sebagus apa pun akan kosong dalam dua bulan.
  • Data lama sampai kapan yang perlu dimigrasi. Tidak semua arsip perlu ikut pindah. Sering kali cukup data dua tahun terakhir, ditambah saldo atau posisi akhir untuk yang lebih lama.

Menjawab tiga hal itu lebih dulu akan menghemat lebih banyak biaya dibanding menawar harga pengembangan.

Punya kebutuhan serupa untuk instansi atau bisnis Anda?

Konsultasi Gratis
Chat WhatsApp